Jumat, 16 Desember 2011

TULISAN TERAKHIR CINTA…

“kriing…..kriiinggg….” suara alarm pagi ini kembali membangunkanku, tak terasa hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17, akupun segera mengambil handuk dan pergi kekamar mandi, mengingat hari ini adalah hari terakhirku bersekolah sebelum liburan semester dimulai.
“ pagi ma…pa…” sapaku yang pada saat itu mereka telah berkumpul menungguku di meja makan. “ pagi sayang….selamat ulang tahun darl, Ehmmm kira-kira kamu mau hadiah apa di ultah kamu yang ke 17 sekarang?” Tanya papa yang selalu tak pernah absen untuk memberiku hadiah ulangtahun, maklumlah aku adalah anak satu-satunya dari papa dan mama maka tak aneh jika mereka sangat memanjakanku, terutama pada soal materi. “ gimana kalo liburan sekolah besok kita pergi ke bogor, kan uda lama Anggrek nggak ketemu sama eyang putri, gimana? boleh yah ma, pa??” ucapku. “ ke bogor ya…. Papa sih bisa-bisa aja, kalo mama?” “ mama juga ngikut aja pa, kalo Anggrek suka mama pasti juga akan suka”.

Hari yang ku nantipun tiba, hari dimana aku akan berangkat ke Bogor, udah nggak sabar pengen cepat-cepat ketemu dengan eyang putri. Sesampainya di Bogor aku langsung disambut oleh eyang putri yang sudah sedari tadi menungguku tiba, “ eyaaaang….anggrek kangen deh sama eyang, gimana eyang kangen nggak sama anggrek??”, sapaku sambil mencium dan memeluk tubuh hangat eyang yang dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. “ya tentu, eyang sangat kangen sama cucu kesayangan eyang ini.”. kamipun melanjutkan pembicaraan kami di ruang makan dan eyang telah menyambutku dengan membuatkan berbagai macam masakan kesukaanku. Hmm….rasanya bagaikan jadi ratu sehari. hehe

Pagi pertama ku di Bogor, ku awali dengan bersepeda mengelilingi sebuah perkebunan teh yang sangat indah dan sejuk, jarang-jarang aku bisa melihat sebuah pemandangan yang begitu asri seperti ini, maklum di Surabaya gag ada kebun teh, yang ada hanya rentetan kantor-kantor, jalan raya yang penuh polusi, dan industri-industri yang mulai banyak menjamur di setiap sudut kotanya.
Setelah puas bersepeda di kebun teh, aku seolah teringat kembali masa kecilku yang hampir 6 tahun ku habiskan disini, semua tempat yang dulu menjadi tempat bermainku sama sekali belum ada yang berubah, masih tetap seperti yang dulu dengan tak ketinggalan setting tempat yang tiada duanya. Apalagi kalau bukan pemandangan  perkebunan tehnya yang sejuk nan asri.

“Anggrek….” seseorang menepuk bahu kananku. “Suara itu……?” bisikku sambil mengingat dan menoleh kearah dimana suara itu berasal. “ Anggrek, kamu anggrek kan?” suara itu kembali menyapaku. “kamu??”. “ kamu masih inget aku kan? Aku Angga, pasti kamu uda lupa yah sama aku”. Dengan mata masih tak percaya aku mencoba menyambut seseorang yang telah menyapaku dan berdiri didepanku ini “Angga??...kamu beneran Angga? Angga yang dulu gendut dan pake kacamata bulat dengan poni tebalnya itu??”. Ledekku sambil tersenyum kecil “Ahh lo cuma bisa ngeledek gua aja sih…Iya ini gua, kenapa?”. Sahut angga. “gila!! Gua hampir gak percaya kalo lo itu angga, abiiss…..”. “ Abis apa?? Gua tambah ganteng yah…”. Seraya diikuti suara tawa renyah dari kami berdua.

Malam hari.**
Aku masih belum percaya dengan apa yang aku temui tadi pagi, pertemuanku dengan seseorang di masa laluku itu masih membuatku seperti mimpi. Angga adalah sahabat karibku saat kami berdua masih kecil. Aku sempat bersekolah di bogor pada waktu itu, meski aku harus terpaksa pindah ke Surabaya saat aku duduk dibangku kelas 4 SD. Selama aku di Bogor aku dan angga berteman dekat. Banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya setelah hampir 10 tahun kami tak bertemu, karena sempat eyang putri bercerita padaku bahwa setelah angga lulus SMP, ia diajak kakaknya yang bekerja di Bandung untuk meneruskan SMAnya di kota kembang tersebut. Angga yang dulu kukenal sangatlah berbeda dengan Angga yang sekarang, dia telah berubah menjadi sosok yang begitu menawan. Dari Angga yang gendut, pendek, berponi, dan berkacamata tebal itu kini berubah menjadi angga yang tampan dengan postur tubuh yang mendukung dan dengan parasnya yang mempesona layaknya artis di televisi.

Keesokan harinya. **
Aku dan angga hari ini ada janji untuk bertemu di perkebunan teh tempat kami dulu menghabiskan waktu sepulang sekolah. Di tempat penuh kenangan tersebut kami bercerita tentang banyak hal. Mulai dari tentang pendidikan kami sampai tentang masalah pribadi kami. Dan tak pernah kuduga, bahwa ia sengaja datang ke Bogor hanya untuk bertemu dengan ku. Jauh- jauh ia datang dari Bandung hanya untuk mengatakan suatu hal yang katanya sudah sedari dulu ingin ia katakan padaku. Dan entah kesambet setan latah darimana, pada saat itu pertama kali dalam hidupnya ia memberanikan diri untuk mencoba memegang tanganku, dengan mengarahkan pandangan matanya yang begitu teduh sambil mengatakan bahwa ia menyayangiku lebih dari sekedar sahabat. Ia mencintaiku.

3 tahun kemudian**
“sayang…besok jadikan kamu jemput aku.” Sebuah pesan singkat yang aku kirimkan lewat sebuah handphone putih minimalis milikku kepada seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku. Yaa…..dia adalah Angga, teman kecilku yang kini telah berubah menjadi kekasih yang amat aku sayangi. Setelah Angga menyatakan perasaannya tiga tahun lalu, kamipun akhirnya berpacaran dengan cara long distance. Karena kami harus menyelesaikan kuliah kami berdua. Dan kini saatnya aku pergi ke Bandung untuk bertemu dengan kekasihku itu.

Pukul 10.00 **
Akhirnya…… aku tiba di kota kembang yang aktifitasnya tak jauh berbeda dengan kota-kota besar di Pulau Jawa lainnya. Pada saat pertama aku datang di Bandung, aku seolah merasa ada yang lain dengan Angga. Pertama, karena dari semua sms dan telponku gak ada satupun yang dibalas ataupun diangkat olehnya. Bahkan di stasiunpun aku hanya dijemput oleh kakak ipar Angga. Hampir selama perjalanan menuju rumah Angga, aku hanya bingung dan bertanya-tanya. Mengapa semua pertanyaanku tentang Angga tak pernah di gubris sedikitpun oleh mbak Ratna kakak ipar Angga.

Sebelum aku tiba kerumah kakak angga dimana selama ini angga tinggal, aku diajak mbak Ratna kesebuah taman kota yang ada di bandung. Setelah kami memilih salah satu kursi taman yang berdekatan dengan sebuah kolam ikan, mbak ratna pun mulai bercerita tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Duka ini bermula ketika angga jatuh dari atas tempat tidurnya. Dan semenjak itu angga mengalami koma. Kejadian itu terjadi sekitar tiga hari lalu. Setelah angga dibawa kerumah sakit, barulah penyakit angga diketahui. Dan begitu syoknya kak Rudi dan mbak Ratna mendengar penjelasan dokter bahwa selama ini angga telah mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening yang telah diidapnya selama setengah tahunan belakangan ini. Dan penyakit itulah yang akhirnya menyebabkan angga koma dirumah sakit. Mendengar penjelasan dari mbak ratna, aku seolah dihempaskan dan dihantam ombak yang meluap dengan begitu ganas. bagaimana tidak, karena selama ini orang yang aku sayang sedang berperang melawan penyakitnya dan itupun tanpa sepengetahuanku. Dan mungkin itulah yang menjadi alasan utama angga, kenapa 5 bulan yang lalu tiba-tiba angga berkunjung ke Surabaya hanya untuk menemuiku dengan alasan ia rindu dan ingin mengajakku jalan-jalan. Mengingat itu semua tangiskupun pecah seketika dan mbak ratnapun mencoba untuk menenangkan dan memeluk tubuhku yang seolah rasanya ingin meledak dan sangat rapuh. Dan baru kali ini aku tau mengapa angga menyembunyikan penyakitnya kepada keluarga dan bahkan aku kekasihnya, mungkin lantaran angga tidak ingin hanya kerena penyakitnya ia harus berhenti beraktifitas seperti biasanya, berhenti untuk menjadi angga yang riang, aktif, penuh semangat dan hangat penuh kasih berubah menjadi angga yang lemah, dan dikasihani banyak orang atau bahkan hanya bisa ditangisi. Yang angga ingin adalah disisa hidupnya ia bisa melihat kegembiraan dan senyuman yang terlukis indah dari orang-orang yang disayanginya tanpa mau sedikitpun membuat mereka sedih akan apa yang sedang ia alami.

Di rumah sakit.***
Didepan ruang tunggu pasien, aku melihat kak Rudi tengah duduk lunglai sambil membawa sebuah amplop coklat ditangannya. Aku dan mbak Ratna pun segera mendekati kak Rudi. Dan betapa tak percayanya aku ketika kak rudi mengatakan pada kami bahwa Angga divonis mengidap kanker stadium akhir, dan waktunya sudah tak lama lagi. hal seperti inilah yang membuatku membenci akan sosok dokter yang terlihat menuhankan dirinya. seperti tak ada celah lagi untuk memohon kesempatan hidup pada Sang pembuat hidup. aku benci dokter. Saat itu yang ada dibenakku hanya gambaran-gambaran kenangan indahku bersama angga. Akupun mencoba meninggalkan kak rudi yang saat itu tengah menangis di pelukan mbak ratna sambil berucap bahwa dia telah gagal menjaga adiknya. Dengan perlahan akupun mencoba masuk kedalam sebuah ruangan yang didalamnya bisa ku lihat dengan jelas seseorang yang amat aku sayangi sedang terbujur lemas dengan wajah pucatnya berjuang untuk melawan penyakitnya. Dengan terisak akupun mencoba menyapa kekasihku itu, “Hai sayang, aku datang. kenapa tadi bukan kamu yang menjemputku di stasiun? kamu marah sama aku? Ngga….bangun donk, aku uda disini. Aku kangen kamu sayang….jangan tidur lama-lama yaa…”. Setelah mengatakan kalimat itu tangiskupun kembali pecah dengan sesekali aku mencoba menciumi tangan dingin angga. “kamu inget kan sayang…..kamu uda janji sama aku kalau aku ke bandung kamu akan ngajak aku jalan-jalan kan, sama waktu saat kita jalan-jalan di Surabaya. Bangun donk Ngga!!” pada saat itu semua sudut dikamar yang angga tempati begitu sunyi seakan mereka juga turut menampung segala rasa perih yang aku alami saat aku melihat pujaan hatiku tak bergerak sedikitpun. Dan tiba-tiba refrigerator angga berhenti dan itu tandanya……
dan dengan cepat para dokter dan suster berlari kekamar nomer 202 dimana angga dirawat. Ruangan yang tadinya sepi hanya ada aku dengan angga kini berubah menjadi riuh oleh isak tangis karena pada saat itu aku harus melihat angga mencoba melawan penyakitnya untuk terakhir kali. hingga pada waktunya dokterpun sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi. Semuanya tinggal keputusan Tuhan. Sedangkan aku, kak rudi dan mbak ratna hanya bisa berdoa dalam kesedihan dengan sesekali kami usap mata kami yang telah sembab.

1 minggu kemudian**
Mungkin inilah yang selalu ditakuti oleh angga. Saat dimana ia harus pergi meninggalkan kak rudi dan mbak ratna, meninggalkan aku untuk selamanya. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk sahabat kecilku dan belahan jiwaku. Mungkin hanya dengan ini dia bisa terbebas dari penyakitnya yang telah memenjarakannya. Selamat jalan adikku, selamat jalan sahabat karibku, dan selamat jalan kekasih hatiku. Aku akan selalu mencintaimu dan kau akan selalu menempati sudut hatiku yang terindah. Meski mungkin entah kapan aku akan bertemu dengan cinta yang lain, namun rasa cintaku padamu akan berbeda dengan rasa cinta yang lain, karena kau yang teristimewa buatku. Untuk dulu, kemarin, esok, dan sampai kapanpun sampai aku kan berjumpa kembali padamu dalam pangkuanNya.

**Buku harian Angga yang terakhir kali ia tulis, malam sebelum dia koma.**

Bandung, 5 Jan 2010

Di malam yang diselimuti rintik hujan ini, aku merindukanmu cinta, aku merindukanmu dan seolah tak ingin kisah cerita ini cepat berakhir. Masih banyak yang ingin aku berikan untukmu, masih banyak kata cinta yang ingin aku sampaikan padamu, masih banyak inginku untuk selalu bersamamu walau hanya sekedar mencium keningmu cinta…

Didalam keterbatasanku ini, jika aku disuruh memilih aku ingin sekali mengulang menjadi angga kecil seperti dulu. Angga yang gendut dengan poni tebalnya. Karena dengan menjadi sosoknya aku bisa dengan leluasa melihatmu cinta……

Angga yang dulu selalu tak bisa melihatmu menangis, angga yang selalu berusaha untuk membuatmu bahagia, angga yang selalu menatapmu dari jauh tanpa pernah berani untuk mendekat, dan angga yang hanya mampu mengagumimu dari kejauhan, serta angga yang dari dulu sampai sekarang masih teramat sangat menyayangimu cinta...
Mungkin aku adalah angga yang selalu ingin terlihat kuat didepanmu, tapi aku adalah sosok yang pertama kali menangis jika kau sakit dan terlalu takut mengatakan cinta. Bagiku kau adalah satu-satunya wanita terbaik dalam hidupku setelah Alm.bunda,
Dari begitu banyak nasehatmu dan celotehmu untukku, yang paling aku ingat hanya satu, 
“ Angga, meskipun Anggrek akan pergi tapi anggrek akan selalu mengingat angga, jadi sahabat angga, sekalipun kita jauh. Anggrek sayang angga. Dan rasa sayang ini gak bakal hilang sampai kapanpun. Jika dewasa nanti anggrek ingin angga yang jadi suami anggrek”. Yaah…itulah kalimat yang angga masih inget jelas sebelum kamu pergi ke Surabaya.

Mungkin ini adalah tulisan terakhirku untukmu cinta, tapi yang perlu kamu tahu bahwa dimanapun aku berada, cinta dan kasihku tak pernah jauh darimu. karena buatku kamu perempuan terindah yang angga punya.
Angga hanya bisa minta maaf ke Anggrek, karena selama angga kenal dan jadi pacar anggrek angga belum bisa ngasih yang terbaik untuk anggrek.
pertanyaan terakhir untukmu cinta,
Apakah kau akan tetap mencintaiku esok pagi??

Aku yang menyangimu sekarang, dan selamanya.


                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar